Skip to main content

Awal (Eps. 1)

Aku telah mengenal rasa suka pada umur ku yang waktu itu masih sangat muda. Disaat anak-anak lain masih belajar perkalian dan pembagian, aku malah asik mencuri-curi pandang. Ketika aku kelas 1 sd, itulah kali pertamaku menyukai seorang perempuan. Namanya ika. Tak banyak hal yang aku ketahui tentangnya, hanya saja ia selalu tersenyum dan itu membuat semua orang bahagia melihatnya. Aku ingat sekali, dia memakai tas keroppi berwarna hijau, satu-satunya hal yang ku ingat selain senyumnya. Berjarak 1 bangku disebelahnya, tak menutup kemungkinan kalo aku akan mengenal baik dia. Ia duduk dengan Inge teman baiknya, sementara aku duduk bersama Sandi, anak culun yang selalu dibully oleh teman sekelasku. Meskipun begitu, aku selalu berteman baik dengannya.

2 semester berlalu, kini aku naik ke kelas 2. Dengan perasaan yang begitu lugu, perpisahan kelas dengan ika tak begitu jadi hal yang perlu ku urusi. Lewat begitu saja. Di kelas yang baru, aku bertemu teman baru dan suasana baru pula. Dikelas yang baru ini pula, aku tidak terlalu mengenal perempuannya. Jadi.. yaa biarlah saja. Selain rutinitasku belajar disekolah, aku juga mengaji disalah satu TPA dekat rumahku. Disana pun tak ada yang spesial bagiku, yaa seperti biasa hanya mengaji dan memperdalam agama. Hingga pada suatu ketika, ketika aku duduk di tingkat 2, aku mengenal sosok wanita baik bernama Azizah. Dia sendiri adalah anak yang sangat alim dan pintar. Ia tinggal di keluarga yang sangat kuat ilmu agamanya. Aku mengenal baik azizah, karena kami sering bermain bersama. Dan tanpa ku sadari, ternyata azizah juga adalah teman sekelasku disekolah. Kedekatan kami ternyata diperhatikan oleh kakak-kakak tingkat dipengajianku. Sering kali aku di-"cie"in dengan wanita yang muslimah itu.

"Cieee.. ilham sama azizah..", kata mereka.

1 hal yang ku ingat dari Azizah, ketika ia menjalani tingkat 3 di TPA ku itu. Ia menangis ketika hendak diturunkan ke tingkat 2. Dengan alasan ia menulis sangat lambat, sehingga tidak mampu menerima ilmu yang diajarkan oleh pak ustad Sofyan. Padahal saat itu aku baru naik ke tingkat 3. Uniknya, hanya kami berdua saat itu yang seumuran. Anak-anak tingkat 3 lainnya berumur sudah antara 13-15 tahun. Ternyata aku sadar, bahwa rasa suka tak perlu mengenal yang namanya fisik, tetapi sikap. Ya, aku menyukai Azizah pada saat itu.

Setelah menjalani hari-hari biasanya, ternyata ayahku dipindahkan tugas ke kota lain yang dekat dengan lautan. Sehingga aku harus pindah rumah, meninggalkan teman-teman termasuk Azizah. Tanpa pamit, tanpa salam perpisahan, ya semua hanya lewat begitu saja. Sudah sewajarnya begitu bukan? aku menyukai perpisahan karena bertemu orang yang baru, karena mengenal banyak orang membuatku merasa tidak sendirian.

Comments